RSS

Arsip Kategori: Renungan Siang

Hidup Adalah Perjuangan ( Part 2 )

Terbentuknya manusia diawali perjuangan sebuah sel sperma untuk bertemu dengan sel telur dari ibu. Dari berjuta-juta (antara 40 juta s.d 1,2 milyard sel sperma yang dikeluarkan saat ejakulasi, hanya 200 sel sperma yang bisa mencapai area sel telur di tuba falopi (saluran indung telur), sebab setelah sperma-sperma ini memasuki tubuh Ibu, sel-sel sperma tersebut akan berhadapan dengan campuran pekat asam di dalam organ reproduksi sang Ibu yang berfungsi untuk menghalangi pertumbuhan bakteri. Campuran asam ini juga mematikan bagi sperma. Dan dari 200 sel sperma ini hanya 1 sel saja yang berhasil bertemu (membuahi) sel telur Ibu.

Perjuangan terus berlanjut saat manusia lahir ke dunia. Sang bayi harus dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya supaya dapat hidup. Mulai dari iklim, polusi, penyakit, makanan sesuai kemampuan orang tuanya, tempat tinggal yang ada, dsb. Saat masuk ke lembaga pendidikan harus berjuang untuk mendapatkan lembaga pendidikan yang diinginkannya. Untuk dapat lulus juga harus berjuang untuk mendapatkan nilai standart kelulusan yang ditentukan. Setelah lepas dari dunia pendidikan ada perjuangan baru untuk mendapatkan pekerjaan sebagai saluran berkat penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya atau rumah tangganya.

Bukan tidak mungkin ada banyak masalah dan hambatan-hambatan baik yang natural atau hambatan yang diciptakan oleh pihak lain. Menghadapi hal semacam itu yakinlah akan rencana Tuhan yang selalu baik untuk kita. Ingatlah akan kisah Yusuf yang dicelakai oleh persekongkolan saudara-saudaranya, justru menjadikannya seorang pejabat kerajaan yang termasyur. Dengan berserah diri kepada Tuhan, jika dihambat teruslah merambat, jangan putus asa, teruslah berjuang, kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan. Dengan meyakini adanya kekuasaan dan keadilan Tuhan, jika dipersulit justru bisa melejit karena anda sudah biasa teruji dengan menghadapi segala masalah dan kesukarannya.

Sumber : Renungan Harian

Iklan
 

Hidup Adalah Perjuangan

Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. (Yohanes 5:4).

Salah satu tema yang tidak pernah berhenti dibicarakan semasa manusia hidup adalah tentang hidup itu sendiri. Karena itu, setiap orang harus mengerti makna dari kehidupan tersebut agar pemahamannya tentang hidup tidaklah terlalu sekuler. Sebab, dalam dunia ini terlalu banyak filosfi hidup yang dibangun tidak berdasarkan firman Tuhan. Sebut saja, filosofi yang mengatakan masa kecil ditimang-timang, masa muda foya-foya, masa tua kaya raya dan mati masuk surga.

Dalam bacaan firman Tuhan ini, Alkitab memberi perspektif yang berbeda tentang makna dari sebuah kehidupan. Di Yerusalem, dekat pintu gerbang domba ada sebuah kolam yang namanya Betesda. Dan, Betesda itu memiliki lima serambi. Di serambi-serambi itu, berbaring sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Di sana mereka menantikan goncangan air kolam tersebut. Alkitab berkata, Allah membuat aturan main yang luar biasa dan akal manusia yang terbatas sulit memahaminya. Aturan itu adalah barang siapa terdahulu masuk di dalamnya, itulah yang mendapatkan kesembuhan. Aturan ini membuat kita bertanya, kalau hal itu diberlakukan bagi orang sehat tidak masalah. Tapi, hal ini diberlakukan bagi orang-orang sakit suatu hal yang sukar dipahami. Namun itulah aturan mainnya.

Satu prinsip yang sangat menonjol kita lihat di sini bahwa hidup itu sebuah perjuangan. Manusia harus berjuang sedemikian rupa agar memperoleh berkat yang sudah disediakan-Nya, yakni kesembuhan. Jika hanya berdiam diri dan tidak pernah mencoba bertarung, maka seumur hidup tidak pernah menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan. Sakit, bukanlah alasan untuk berdiam diri. Keterbatasan bukan pula alasan untuk berkata inilah nasib saya. Tuhan mau, kita berjuang dari keterbatasan yang ada, agar kuasa-Nya makin nyata bagi kita. Inilah prinsip firman Tuhan.

“Walau terbatas, tetaplah berjuang agar kuasa-Nya menjadi nyata”.

Sumber : Renungan Harian

 

 

Hidup Adalah Anugerah

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia .

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?”

Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta.
Dia menolak untuk menikah dengannya. Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

*Hidup adalah Anugerah*

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam baka.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyupir terlalu jauh – Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu – Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu – Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu.

NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MASA HIDUP ITU SINGKAT SAJA, DAN MUNGKIN ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI.

 

Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda.
(Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ” (Pengkotbah 3:11)

Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti, Satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan beri. Tuhan-mu, tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, Cobaan yang engkau alami takkan melebihi kekuatanmu.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/10/02 in Renungan Siang

 

Pujian dan Penyembahan Yang Dirindukan Allah

Pujian dan penyembahan timbul dari suatu perasaan hati seseorang yang kemudian diungkapkan dalam berbagai ekspresi, bisa berupa kata-kata, nyanyian, tarian, tepuk tangan, bahkan mungkin tangisan.
Memuji adalah berbicara yang baik, mengungkapkan kekaguman, memberi penghargaan, mengucapkan selamat dan kata-kata pujian untuk meninggikanNya.
Menyembah adalah memberi penghargaan dengan rasa gentar, memiliki rasa segan dan takut dihadapanNya, untuk tunduk serendah-rendahnya didepan Dia, dan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya.

Jadi menyembah adalah bentuk paling tinggi dari memuji. Di dalam alkitab kata menyembah ( SHACHAH ) pertama kali dijumpai di dalam Kejadian 22:5

Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu : ‘Tinggallah kamu disini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi kesana ; kami akan SEMBAHYANG
( SHACHAH ), sesudah itu kami kembali kepadamu’

Kalau kita baca kisah Abraham ini kita lihat benang emas yang terjalin luar biasa sekali dari suatu hubungan intim antara Allah dan Abraham :

1. Allah memerintahkan Abraham untuk pergi dan menyembah ( Firman )
2. Tanggapan Abraham yang mau melakukan (ketaatan)
3. Abraham mempersembahkan Ishak ( harga yang harus dibayar)
4. Tindakan Abraham adalah tindakan iman ( iman )
5. Abraham menyerahkan secara total seluruh masa depannya (kesetiaan)

Ketika saya memuji dan menyembah Allah dalam suatu kebaktian, Tuhan berbicara pada saya bahwa Dia rindu jemaat memuji dan menyembah dengan benar. Yang seperti apa sih Tuhan ? Dan Dia ingatkan Lukas 15:7 dimana ada sukacita dan sorak sorai dari seluruh malaikat di sorga ketika ada satu orang bertobat.

Jadi kapan pujian dan penyembahan yang luar biasa itu terjadi? Jawabannya sederhana : Ketika ada satu orang saja yang sedang meresponi suara Tuhan
Coba bayangkan ketika ada satu orang yang mungkin sedang menangis sendiri dikamar, dan ketika orang itu menerima Tuhan Yesus ( artinya merespon suara Tuhan ) maka ada pujian penyembahan dari seluruh isi sorga kepada Allah Bapa kita.
Bandingkan dengan Abraham ketika dia merespon suara Allahnya, pujian penyembahan terjadi lagi bagi kemuliaan Allah Bapa kita.

Oleh sebab itu mari kita semua mulai memuji dan menyembah bukan sekedar rutinitas atau tata cara ibadah, tetapi mulai dengan hal yang sederhana yakni merespon suara Allah, walaupun untuk itu mungkin kita harus taat, bayar harga, beriman, dan setia.
Tidakkah anda rindu ada pujian penyembahan yang luar biasa terjadi akibat respon anda terhadap suaraNya ?

 

By  :   Pdp Ir Trisna Santosa 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/25 in Renungan Siang

 

Kunci Pintu Berkat

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Lukas 6:38

Dengan semakin naiknya harga kebutuhan pokok di pasaran, maka manusia semakin mengatur keuangan dengan sebaik mungkin. Pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak terlalu penting, dipangkas. Sebisa mungkin mereka tidak melakukan pemborosan dengan hal-hal yang tidak penting. Prinsip memberi menjadi suatu hal yang dilupakan bagi banyak orang. Mereka berpikir bahwa untuk kebutuhan sendiri saja sudah pas-pasan, bagaimana jika mereka harus membantu orang lain juga.

Sebagai umat Tuhan kita harus mengerti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita. Jalannya Tuhan tidak bisa dibatasi dengan akal dan logika kita. Logika mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat, tetapi Tuhan justru mengadakan mujizat dengan memberi makan 5000 orang hanya dengan 5 buah roti dan 2 ekor ikan. Bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul (Mrk 6:34-44).

Mari kita melihat bagaimana caranya agar mujizat dapat terjadi dalam kehidupan kita :

1. Mengucap syukur dengan apa yang kita miliki

“Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat” Mrk 6:41

Tuhan sendiri mengucap syukur atas apa yang ada pada saat itu. Dia tidak melihat keterbatasan yang mereka miliki saat itu. Mereka membutuhkan jauh lebih banyak dibanding hanya 5 roti dan 2 ikan. Tetapi Dia Allah yang Maha Kuasa. Dia sanggup mengadakan yang tidak ada menjadi ada.

Apapun yang kita miliki saat ini, biarlah kita mengucap syukur di dalamnya. Mungkin penghasilan kita tidak seberapa. Mungkin harta kekayaan yang kita miliki tidak ada artinya dibanding dengan orang lain. Atau bahkan kita dalam keadaan yang selalu berkekurangan. Marilah kita belajar mengucap syukur dalam segala keadaan kita. Mengucap syukur merupakan kunci menuju pintu berkat kelimpahan.

2. Belajar memberi

Berilah maka kamu akan diberi….” Luk 6:38

Prinsip memberi harus kita terapkan dalam kehidupan kita. Jika kita rindu diberkati oleh Tuhan, kita harus belajar untuk memberi. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa ketika kita belajar untuk memberi, maka di saat itulah kita akan menerima berkat dari Tuhan.

Belajar menyisihkan sedikit dari apa yang kita miliki. Walaupun keuangan kita mungkin sudah tidak mungkin lagi untuk memberi, kita tetap harus belajar untuk memberi. Belajar mengembalikan perpuluhan dari penghasilan kita, belajar memberi bagi mereka yang membutuhkan, kita akan melihat pintu-pintu berkat akan dibukakan bagi kita. Bahkan Tuhan mengatakan, “Ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” Mal 3:10

Tuhan tidak akan berhutang kepada umatNya. Dia akan semakin memberkati kehidupan kita, ketika kita belajar untuk memberi.

3. Beri dengan apa yang ada pada kita

“Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Mrk 6: 38

Tuhan Yesus dan murid-muridnya memberi makan 5000 orang hanya dengan apa yang ada pada mereka dan mujizatpun terjadi. Berkat berkelimpahan dialami oleh 5000 orang tersebut, mereka makan sampai kenyang.

Kunci berkat yang ketiga adalah memberi dengan apa yang kita miliki, bukan dengan apa yang tidak kita miliki. Seringkali kita ingin membantu orang lain, padahal kita sendiri belum bisa membantu mereka. Sehingga pada akhirnya kita membantu mereka dengan sedikit dipaksakan, yaitu dengan berhutang kepada pihak lain atau bahkan menjual harta yang ada untuk dapat membantu orang tersebut.

Memberi bukanlah dari sesuatu yang tidak kita miliki, tetapi dari apa yang kita miliki. Tetapi bukan berarti ini menjadi alasan bagi kita untuk tidak belajar memberi. Minta hikmat kepada Tuhan, kapan saatnya untuk memberi. Tuhan akan menuntun kehidupan kita, sehingga kita akan tetap dapat memberi dengan apa yang ada pada kita.

Mari kita syukuri dengan apa yang ada pada kita saat ini. Ada kuasa yang luar biasa dari sebuah pengucapan syukur, mujizat bisa terjadi lewat ucapan syukur. Belajar memberi dari segala kekurangan kita. Dan beri dengan apa yang memang kita miliki. Kita akan melihat kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Pekerjaan dan usaha kita akan semakin diberkati. Bahkan pintu-pintu berkat yang baru Tuhan bukakan bagi kita.

 

Sumber : Pelita Hidup

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/25 in Renungan Siang

 

Belajar Dari Semut

Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. “Anak ku apa yang sedang engkau lihat?” tanya sang ayah.

Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. “Anak ku apa yang sedang engkau lihat?” tanya sang ayah.

“Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?” tanya Salomo kepada ayahnya.

“Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi.” Jawab Daud.

“Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini.” Sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.

“Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidak akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja”. Jawab Raja Daud.

“Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?” tanya Raja.

“Entah ayah, mungkin sampai nanti sore”. Jawab Salomo.

“Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?” sambung Raja Daud.

“Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja.” Salomo mencoba mengajukan argumennya.

“Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisanya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja.” Jawab Raja Daud.

“Anak ku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut.” Sambung Raja Daud.

“Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert.” Pinta Salomo.

“Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi.”

“Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi.”

“Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut.” Sambung Sang Daud.

Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo. “anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti.”

Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/23 in Renungan Siang