RSS

Arsip Kategori: Renungan Pagi

Dia Menjagaku Dengan Baik

Baca: Yohanes 10:7-15

Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. —Yohanes 10:15

Di suatu saat hening sebelum ibadah Minggu pagi dimulai, pemain organ memainkan sebuah himne yang terdengar baru bagi saya. Saya membuka buku pujian yang mencantumkan himne tersebut dan membaca lirik dari lagu, “Tuhan Gembalaku Menjagaku dengan Baik,” suatu gubahan indah dari Mazmur 23:

Tuhan Gembalaku menjagaku dengan baik,
Dan semua kebutuhanku dicukupi-Nya:
Di padang rumput hijau ku berbaring,
Hingga dibimbing ke air yang tenang.
Jiwaku yang lelah kembali kuat
Saat kutempuh jalan Allah yang benar.

Seberapa pun seringnya kita membaca atau mendengarkan Mazmur 23 yang sudah begitu kita kenal, pujian ini seolah menyegarkan kembali pesan pasal tersebut tentang pemeliharaan Allah bagi kita.

Walaupun aku berjalan dalam jalan-jalan gelap
Melewati ngerinya lembah kelam,
Aku takkan takut bahaya;
Kehadiran-Mu membuatku tegar.
Gada-Mu dan tongkat-Mu menjagaku.
Yakinkan aku Kau selamatkanku.

Gambaran ini tidak asing bagi mereka yang mendengarkan Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Tidak seperti seorang upahan yang melarikan diri dari bahaya, gembala yang baik justru mendampingi domba-dombanya demi melindungi mereka. “Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari . . . . Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku” (ay.12-14).

Apa pun yang Anda hadapi hari ini, Yesus mengenal nama Anda, Dia mengetahui bahaya apa yang mengancam, dan Dia tidak akan meninggalkan Anda. Dengan penuh keyakinan, Anda dapat berkata: Tuhan Gembalaku menjagaku dengan baik!

Anak Domba yang mati untuk menyelamatkan kita adalah Gembala yang hidup untuk membimbing kita.

Sumber : WarungSateKamu.org

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/10/23 in Renungan Pagi

 

Like Father Like Son

Profesional dalam perjalanan ke kantor, saya membaca koran pagi yang menurunkan kisah sukses seorang pemuda yang baru berumur 17 tahun. Dia dianggap bertangan dingindi bidang saham sering jadi rujukan bahkan oleh pemain saham senior. Di dalam usianya yang masih belia itu dia sudah sukses secara materi. Padahal dulunya dia sangat tidak suka dengan permainan saham. Bagaimana dia bisa sesukses ini ?

” Ayah saya pemain saham”, ujarnya kepada wartawan koran itu. ” Sejak umur 10 tahun, saya sudah dilatih Papa untuk memonitor saham di layar kaca “. Bukan hanya itu, ayahnya memodalinya 100 juta rupiah sebagai tahap awal. ” Dalam tempo singkat, tinggal 7 juta “, ujarnya. Namun dari situ dia belajar untuk lebih cermat. Lewat proses belajar yang tak kenal lelah lebih baik lewat buku, internet, pelatihan maupun bertanya, dia mulai mahir berselancar di lautan saham.

Profesional, ingin jadi apakah anak-anak Anda ? Apa yang Anda tanamkan hari akan menjadi pohon yang kuat dan perkasa di kemudian hari. Apakah Anda menanam benih yang baik kepada anak-anak. Anda atau membiarkan taman hatinyadipenuhi ilalang ? Pilihan ada di tangan Anda. Yang jelas, pepatah yang berkata, ” Kacang ora ninggalno lanjarane ” ( sayur kacang tidak akan jauh dari kumpulannya ). Peran kita sebagai orang tua sangat besar di dalam membangun atau menghancurkan masa depan anak kita

Ayat Renungan :

Tetapi Daud berkata kepada Saul : ” Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya “

1 Sam 17 : 34a

Doa :

Bapa, ajar aku untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab terhadap karier dan masa depan anak-anak saya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/10/16 in Renungan Pagi

 

Tuhan Melihat Segalanya

Ayat bacaan: Amsal 15:3

“Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.”


Punya anak anjing kecil empat ekor yang baru saja mulai lincah membuat saya sering meluangkan waktu untuk menyaksikan mereka bermain. Disamping mengawasi agar mereka tidak melakukan hal-hal bodoh, seperti menggigit kabel listrik misalnya, memperhatikan mereka agar tidak buang air sembarangan di lantai, saya juga bisa melihat kepribadian masing-masing. Ada yang hyperaktif, sangat lincah, ada yang pintar, ada yang pendiam dan ada pula yang senang menjahili saudara-saudaranya. Saya cukup mengawasi dari atas agar bisa melihat polah dan tingkah laku keempatnya. Itu terhadap empat ekor anak anjing kecil, bagaimana dengan manusia? Teknologi yang semakin maju saat ini sudah memungkinkan kita untuk bisa memantau situasi dari jarak ribuan kilometer sekalipun. Alat-alat seperti webcam, cctv dan sebagainya bisa membuat kita mampu untuk memantau tanpa terbatas lagi oleh jarak. Kamera satelit bisa menangkap gambar dari berbagai belahan dunia dengan cukup detail. Jika hari ini teknologi sudah bisa seperti itu, bagaimana lagi satu dasawarsa ke depan?

Mata Tuhan sudah sejak awal mampu berfungsi seperti itu. Dia bisa berada di segala tempat pada waktu yang sama untuk memantau apapun yang kita lakukan. Salomo mengatakan “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.” (Amsal 15:3). Tidak ada satupun tempat di alam semesta ini yang berada di luar jangkauan penglihatan Tuhan. Kita bisa membaca referensi lain akan hal ini lewat Mazmur 139 yang bertajuk “Doa di hadapan Allah yang maha tahu.” Dalam bagian Mazmur ini kita bisa melihat bagaimana Tuhan “menyelidiki dan mengenal” kita. (ay 1). Dia mengetahui pikiran kita (ay 2), melihat kita bekerja dan beristirahat serta mengetahui apapun yang kita perbuat (ay 3), Dia pun tahu apa yang menjadi isi hati kita sebelum kita mengucapkannya. (ay 4). Tidak satupun tempat yang tersembunyi dariNya (ay 7-10), bahkan di tempat yang tergelap sekalipun Tuhan bisa melihat. (ay 11-12). Semua ini menunjukkan bagaimana mata Tuhan mampu menjangkau segala sudut terkecil sekalipun dari hidup kita. MataNya ada dimana-mana, di segala tempat, mengawasi yang jahat dan yang baik.

Bagi orang yang baik, orang yang mengasihi Tuhan dan melakukan kehendakNya tentu ini merupakan sebuah kabar yang menggembirakan. Kita tahu sekarang bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia ada bersama kita dalam apapun yang kita lakukan. Tuhan berada bersama kita kemanapun kita pergi, dan itu bisa membuat kita tidak perlu takut menghadapi apapun. Menyadari keberadaan Tuhan dengan kasih setiaNya setiap waktu bersama kita akan membuat kita tahu bahwa semua yang kita lakukan demi kemuliaanNya tidak akan pernah sia-sia, meski tidak ada satupun orang yang melihat. Sebaliknya bagi  orang jahat, orang yang terus memilih untuk hidup cemar dalam berbagai dosa, ini adalah sebuah kabar buruk. Jika ada orang yang selama ini berpikir bahwa bisa selamat jika perbuatan jahatnya tidak diketahui orang lain, dari rangkaian ayat-ayat di atas kita bisa melihat bahwa tidak ada tempat atau kesempatan sedikit pun sebenarnya untuk menyembunyikan diri dari sorot mata Tuhan. Tuhan melihat segalanya dan tahu segalanya. Meski kebohongan, kecurangan atau kejahatan bisa tersimpan rapi dari pengamatan orang, serapi apapun itu, di mata Tuhan semua itu akan selalu terlihat dengan nyata dan jelas.

Dalam Ibrani kita temukan ayat yang berbunyi: “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Baik atau jahat, semuanya akan sangat transparan di mata Tuhan. Apapun yang kita lakukan, rencana yang ada di pikiran kita atau perasaan dalam hati kita, ingatlah bahwa Tuhan sedang memandang kita dan akan terus melakukannya. Maka hendaklah kita menjaga sikap, perbuatan, pikiran, perasaan, tingkah laku dan perkataan kita agar seturut kehendakNya. Mari kita buat Tuhan tersenyum bahagia dan bangga melihat bagaimana kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya seperti yang Dia inginkan, dan rasakanlah penyertaan Tuhan dengan kasihNya sepanjang waktu.

Selama Tuhan bersama kita, tidak ada yang perlu kita khawatirkan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/26 in Renungan Pagi

 

Ibadah Yang Berkenan Kepada TUHAN

Ibadah kepada TUHAN menjadi tidak berkenan kepada-Nya, ketika ibadah bukanlah ekspresi dari penghormatan, kasih dan ketundukan kita kepada TUHAN.

Perkataan TUHAN tentang bangsa Israel amat mengejutkan, “Mereka memberontak terhadap Aku ” (1:2), “Mereka meninggalkan TUHAN, menista Yang Mahakudus,
Allah Israel” (1:4), padahal mereka mempersembahkan korban kepada TUHAN dalam jumlah yang banyak (1:11). Dengan kata lain, mereka secara rutin melakukan peribadatan kepada TUHAN, namun mereka adalah pemberontak kepada TUHAN. TUHAN bertanya, “Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” (1:11), karena TUHAN tidak suka dan jemu terhadap ibadah mereka. Sikap TUHAN itu disebabkan karena bangsa Israel tidak beribadah dengan kesungguhan (1:13). Mereka melakukan perbuatan jahat dan hidup tidak adil terhadap orang lemah (1:16-17). Mereka tidak menuruti firman TUHAN (1:19-20). Akibatnya, TUHAN tidak mau mendengar doa mereka (1:15) dan ibadah mereka menjadi beban bagi TUHAN (1:14). Mereka mengabaikan hakekat dari ibadah itu sendiri karena ibadah mereka tidak menyentuh seluruh aspek kehidupan.

Ibadah kepada TUHAN mengungkapkan penghormatan, kasih, dan ketundukan kepada TUHAN karena ibadah yang sejati timbul dari hati dan dinyatakan dalam perbuatan. Hal-hal lahiriah dari ibadah tidak berarti jika bukan merupakan ekspresi batiniah. Bila ibadah adalah ekspresi batiniah, tak akan timbul pertentangan antara ibadah dan perbuatan sehari-hari. Yang terpenting dalam ibadah bukan korban, melainkan orang. Orang yang beribadah menentukan korban yang dipersembahkan, namun korban tidak menggambarkan orang yang beribadah.

 

Yesaya 1:13a
“Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh,sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/25 in Renungan Pagi

 

Doa Bagi Bangsa Indonesia ( Part 2 )

Mazmur 99-101; 1 Korintus 1:18-31

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita terkadang gamang menyaksikan fenomena yang terjadi di negara ini. Ba­nyak pemimpin bangsa yang seharusnya men­jadi teladan dan panutan rakyat, teta­pi satu demi satu digiring ke penjara. Kita pun menjadi galau dengan masa depan bang­sa ini. Akan mewarisi apa kelak anak cucu kita? Utangkah? Kemiskinankah? Atau apa? Akan tetapi, kalau ditanya ba­lik, apa sumbangan positif kita untuk bang­sa ini? Kita akan gagap menja­wab­nya. Malahan kita balik bertanya, siapa­kah saya ini, sehingga dapat memberikan sesuatu yang positif?

Apakah memang benar, kita tidak ber­daya dan tidak bisa berbuat apa-apa un­tuk bangsa kita? Saya kira tidak. Sekecil apa pun, kita bisa berperan dan memberikan sumbangan positif pa­da bangsa ini, asal mau. Mulailah dengan berdoa, baik secara pri­ba­di, maupun menggalang rekan-rekan di persekutuan. Namun, jangan asal berdoa. Bukankah doa “klasik” kita setiap minggu di gereja, adalah berdoa agar Tuhan memberikan hikmat kepada pe­mimpin negara agar bisa memimpin rakyat dengan bijaksana?

Mazmur ini merupakan doa umat agar Allah melindungi raja. Doa ini disertai dengan pemberian persembahan dan korban bakaran sebelum berperang. Tujuannya bukanlah untuk meminta pengam­pun­an dosa, melainkan untuk mencari perkenan Allah. Ketika Allah merespons, Dia akan menyatakan kehadiran dan perkenan-Nya dengan memberikan kemenangan kepada raja. Di samping berdoa, kita juga harus menyumbangkan sesuatu (sekecil apa pun) untuk bang­sa kita. Hal itu dapat kita lakukan dengan memulai kontribusi dari kota tempat kita tinggal saat ini

DALAM KEADAAN KRITIS, MENGELUH TIADA HENTIJUSTRU MEMBUAT KITA LETIH DAN TAK MAMPU MEMBERI ARTI

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/23 in Renungan Pagi

 

Doa Bagi Bangsa Indonesia ( Part 1 )

Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
“Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.”

66 tahun yang lalu proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dinyatakan. Prosesnya tidaklah mulus. Kita mempelajari dari sejarah bahwa sehari sebelumnya, tepatnya pada tanggal yang sama dengan hari ini Soekarno dan Hatta sempat dibawa ke Rengasdengklok untuk didesak agar mempercepat proses proklamasi. Pada akhirnya keesokan harinya tanggal 17 Agustus 1945 kedua bapak bangsa pun menyatakan kemerdekaan Indonesia, yang kita peringati sebagai hari jadi negara Republik Indonesia. Meski proklamasi sudah dikumandangkan dan Indonesia memasuki era baru kemerdekaan, tetapi perjuangan dan pergumulan tidaklah berhenti. Belanda sempat ingin merebut kembali kedaulatan negara kita dan para pahlawan kita pun kembali berjuang dengan cucuran darah dan air mata. Hingga hari ini sesungguhnya perjuangan tidak kunjung berhenti. Hidup di alam kemerdekaan ternyata tidak juga membuat kita bisa menikmati itu sepenuhnya. Adanya gerakan-gerakan separatis, ekstrimis, teroris, koruptor dan orang-orang lain yang tega menghancurkan keutuhan negara demi kepentingan pribadi atau golongannya sendiri, orang-orang yang merasa dirinya paling benar dan merasa berhak menghakimi atau membinasakan orang lain membuat alam kemerdekaan ini masih belum sepenuhnya bisa kita rasakan. Tekanan-tekanan dari negara asing secara politik dan ekonomi masih terjadi hingga hari ini. Bagi banyak orang, kemerdekaan masihlah sebuah utopia saja yang tidak kunjung bisa dicapai.

Apa peran kita sebagai orang-orang percaya dalam menyikapi hal ini? Berpangku tangan jelas bukan pilihan. Melarikan diri ke luar negeri dan membiarkan bangsa ini porak poranda sampai tinggal puing-puing saja juga bukan jawaban yang benar. Apalagi ditambah dengan keluh kesah, protes atau mengutuki pemimpin dan bangsa sendiri. Tidak, itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh orang percaya. Ada tugas besar bagi kita semua karena bukanlah kebetulan kita ditempatkan di dunia ini untuk menjadi bagian dari sebuah bangsa yang masih terus bergulat menghadapi begitu banyak masalah. Turun ke jalan dan membuat keonaran? Memukuli orang yang tidak sepaham atau kita anggap salah? Itu kejahatan berat di mata Tuhan. Salah satu yang bisa dan WAJIB kita lakukan adalah terus memanjatkan doa untuk bangsa ini. Berdoa dan terus mendoakan bangsa. Bukan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi terlebih untuk bangsa ini. Karena selain itu menjadi panggilan wajib bagi kita, tetapi sadar atau tidak sesungguhnya kesejahteraan kita akan sangat tergantung dari kondisi bangsa dimana kita berdiam.

Ada sebuah contoh bagus yang bisa kita lihat dalam Alkitab akan hal ini yaitu dengan melihat cara pandang Daniel. Pada masa hidupnya, Daniel menyadari betapa keadaan bangsanya begitu memprihatinkan. Daniel tidak bersikap apatis, tidak juga menyalahkan bangsanya terus menerus, mengutuki atau bahkan menghakimi. Itu bisa saja dia lakukan kalau mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang yang berbuat kejahatan. Ia hidup kudus dan taat. Ia tidak berbuat apapun yang salah. Tapi perhatikanlah bahwa Daniel mengambil waktu untuk berdoa, bukan difokuskan untuk dirinya sendiri tetapi secara khusus untuk bangsanya. Bacalah seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19 maka kita akan melihat bahwa Daniel menggunakan kata “kami” dan bukan “mereka”. Daniel memiliki sebuah kerendahan hati untuk tidak bermegah diri meski dia sendiri sudah mengaplikasikan hidup benar dan akrab dengan Tuhan sejak semula. Daniel mengasihi dan peduli terhadap bangsanya. Ia tahu bahwa ia merupakan bagian dari bangsanya. Jika bangsanya menderita, ia pun akan turut menderita. Sebaliknya jika bangsanya makmur dan sejahtera, maka ia pun akan menjadi bagian yang bisa menikmati itu. Daniel mengerti bahwa meski ia tidak berbuat satupun kesalahan, tapi biar bagaimanapun ia tetap merupakan bagian yang terintegrasi dengan bangsa yang saat itu tengah memberontak, tengah berperilaku fasik, bangsa yang bergelimang perilaku menyimpang dan dosa. Selain itu, Daniel sadar betul bahwa jika bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dan murka Tuhan dijauhkan dari bangsanya? Maka lihatlah bagaimana Daniel berdoa. “Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Daniel 9:16-19). Ini sebuah doa yang sangat indah yang dipanjatkan Daniel mewakili bangsanya.

Bagaimana jika kita berpangku tangan dan membiarkan saja bangsa yang kita cintai jatuh ke dalam berbagai kejahatan dan penyesatan? Akan hal ini kita bisa melihat mengapa Tuhan membinasakan Sodom. Alkitab menggambarkan kehancuran yang begitu mengerikan. “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.”(Kejadian 19:24-25). Mengapa itu harus terjadi? Alkitab pun menyebutkan alasannya, sebab “orang Sodom sangat jahat dan berdoa terhadap TUHAN.”(Kejadian 13:13). Abraham sempat berusaha untuk meminta keringanan kepada Tuhan, dimana proses tawar menawar antara Abraham dan Tuhan tercatat jelas di dalam Alkitab. Mari kita lihat sejenak. Abraham mengatakan“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kejadian 18:25). Keadilan Tuhan ternyata bukan diukur dari baik tidaknya orang percaya yang tinggal dalam satu bangsa, tetapi sejauh mana mereka peduli terhadap keselamatan bangsanya. Kesejahteraan penduduk tergantung kepada kemakmuran bangsa, termasuk pula di dalamnya anak-anak Tuhan sendiri. Apa kata Tuhan? “TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (ay 26). Ternyata tidak ada 50 orang pun yang benar disana. Tawar menawar terus terjadi, hingga “Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (ay 32). Bayangkan 10 orang benar saja pun sudah tidak ada. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, tidak berpangku tangan, orang yang taat dan takut akan Tuhan dan peduli terhadap bangsanya sendiri, Tuhan akan mengampuni orang-orang yang tinggal di Sodom.

Peran orang percaya sesungguhnya vital terhadap kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Melihat keadaan carut marut bangsa kita hari ini, sudahkah kita berperan di dalamnya? Sudahkah kita menjadi orang percaya yang tidak egois dan peduli terhadap eksistensi dan masa depan bangsa sendiri? Sudahkah kita mendoakan bangsa kita, bergabung bersama-sama saudara-saudari kita lainnya untuk memanjatkan doa mewakili bangsa ini? Sebagai anak bangsa, sudah selayaknya kita peduli dan turut mendoakan bangsa dan negara kita. Paulus pun mengingatkan pesan berikut: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. (1 Timotius 2:1-2). Bisa tidaknya kita hidup tenang dan tenteram, itu tergantung dari bagaimana keadaan bangsa dan negara kita sendiri. Kepedulian kita merupakan sebuah hal yang wajib. “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (ay 3-4). Tuhan tidak ingin satupun dari manusia ciptaanNya untuk binasa. Dia telah menjadikan segala sesuatu itu amat sangat baik sejak semula. Tidak satupun bagian dunia ini yang sengaja Dia ciptakan untuk mengalami kehancuran. Dia tidak pernah bersenang hati melihat runtuhnya sebuah negara dan bangsa. Bukti kasihNya yang sangat besar itu jelas kita lihat dengan hadirnya keselamatan lewat Kristus, mengorbankan AnakNya sendiri untuk semua bangsa, semua golongan, semua ras, tanpa terkecuali. Tapi bagi yang sudah selamat, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendoakan bangsa kita sendiri? Kuasa doa itu sesungguhnya amat besar, apalagi jika dilakukan oleh orang yang benar. “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Oleh sebab itu anak-anak Tuhan haruslah menjadi warga negara yang baik. Hormati dan tunduklah pada pemimpin kita, jangan hanya mengeluh dan membuat segalanya semakin sulit. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Petrus pun mengingatkan hal yang sama, untuk tunduk kepada pemerintah demi nama Allah. “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi..” (1 Petrus 2:13). Kepedulian kita akan sangat menentukan bagaimana masa depan bangsa ini. Alangkah indahnya jika kita anak-anak Tuhan bersepakat berdoa bagi bangsa bersama-sama tanpa memandang perbedaan apapun. Dimanapun dan apapun gereja anda, ini saatnya kita bersatu. Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang termasuk bagi pemimpin-pemimpin kita dan juga untuk bangsa dan negara kita. Benar, kondisi negeri ini masih jauh dari kondisi ideal. Masih begitu banyak yang harus dibenahi. Mungkin masalah-masalah yang ada terlihat jauh lebih besar dari kesanggupan kita, tetapi sesungguhnya untuk itulah kita harus berperan serta. Doa-doa orang benar sangatlah besar kuasanya dan mampu mengubah kehancuran menjadi kemakmuran. Tuhan mendengar doa anak-anakNya dan siap mengabulkan itu semua. Jadilah orang percaya seperti Daniel yang peduli. Ingatlah bahwa kita diselamatkan untuk menjadi berkat buat orang lain, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang bisa menyelamatkan orang lain, (Efesus 2:10) dan ini termasuk bangsa dan negara kita. Jangan biarkan negara kita pada akhirnya mengalami nasib seperti Sodom. Teladani Daniel, hari ini marilah kita mengambil waktu khusus untuk mendoakan negeri kita dengan sungguh-sungguh. Kita mohon ampun atas pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan sebagian dari elemen bangsa ini. Kesejahteraan bukanlah hal yang mustahil apabila semua orang percaya mampu berperan dan berdoa sesuai bidang dan kapasitasnya masing-masing. Dirgahayu Republik Indonesia. Tuhan mengasihi dan memberkati bangsa kita.

Wakili bangsa ini dan berdoalah bagi kesejahteraannya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/23 in Renungan Pagi

 

Makna dan Tujuan Hidup Orang Kristen

Tujuan Hidup Manusia

Salah satu pertanyaan terbesar dalam diri manusia adalah berkaitan dengan makna dan tujuan hidupnya di dunia ini. Setiap orang pasti akan sampai pada pertanyaan “apa arti dan tujuan hidup saya di dunia ini”? Orang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas di dunia ini sama seperti seseorang yang berenang dalam kegelapan di tengah lautan, tanpa arah yang jelas dan kemung-kinan terbesar akan terdampar di tempat yang tidak diharapkan. Se-kalipun kebanyakan orang berang-gapan bahwa mereka mempunyai tujuan hidup, namun kebanyakan meletakkannya pada sasaran yang tidak tepat. Pada umumnya orang berjuang keras dan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar kekayaan, kekuasaan, harga diri atau keluarganya yang seringkali disertai dengan pengejaran gelar atau pendidikan tinggi. Seringkali orang-orang yang memfokuskan dirinya untuk untuk mengejar hal-hal demikian pada akhirnya akan mengalami kebuntuan dan ketidakpuasan pada makna dan tujuan hidupnya, karena mereka meletakkannya sebagai tujuan tertinggi hidupnya. Kalau demikian apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini dan apakah tujuan utama hidup orang Kristen di dunia ini?

Tujuan Hidup Orang Kristen

Rick Warren dalam bukunya “The Purpose Driven Life,” menjelaskan bahwa tujuan hidup orang Kristen jauh lebih besar dari pada prestasi pribadi, karir, ambisi, ketenangan pikiran, bahkan lebih besar dari sekadar tujuan keluarga. Lebih lanjut ia mengatakan “jika Anda ingin tahu mengapa Anda ditempatkan di planet ini, Anda harus memulainya dengan Allah, Anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya.” Jika kita ingin mengetahui tujuan yang Allah tetapkan bagi manusia dan khususnya bagi orang Kristen, maka kita harus melihat apa yang Tuhan tuliskan di dalam Kitab Suci.
Sejak awal penciptaan Allah memberikan mandat kepada manusia yaitu untuk memenuhi bumi dan untuk mengelola seluruh alam ciptaan-Nya (Kej 1: 27-28). Namun jauh daripada sekadar mendirikan pernikahan dan keluarga (beranak cucu) serta mengelola bumi, tentu ada tujuan yang lebih utama dari semua itu. Dengan kata lain bagi orang Kristen, pencapaian cita-cita, kedudukan atau kekuasaan, kekayaan atau kesuksesan bukanlah tujuan hidup yang utama, semua itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih utama (tertinggi). Perta-nyaan pertama dalam Katekis-mus Westminster menanyakan “Apakah tujuan utama (tertinggi) manusia?” Jawaban-nya adalah “untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia sela-manya.” Fokus dari ja-waban tersebut ada-lah memuliakan Allah, yang harus menjadi tu-juan utama dari semua aktivitas dan gerak hi-dup orang Kristen. Hal ini secara sederhana disimpulkan dalam 1 Kor. 10: 31,”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, laku-kanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Memuliakan Allah dan Etos Hidup

Memuliakan Allah merupa-kan satu konsep besar yang sangat penting untuk dipahami orang Kristen dalam hidupnya, segala sesuatu yang dilakukan dengan perkataan atau perbuatan harus dilakukan dalam kerangka itu. Konsep memuliakan Allah dalam hidup orang Kristen dapat disebut sebagai etos hidup (way of life, mind set, worldview) yang harus menggerakkan dan menuntun orang Kristen kepada suatu cara hidup yang betul-betul menyenangkan Allah (Kol 3: 17,23). Jikalau orang Kristen menyadari dan menghidupi konsep ini dengan benar dan mengguna-kannya sebagai etos hidup, maka dengan sendirinya ia akan berada berada pada proses hidup yang Allah kehendaki. Hal ini dimungkin-kan bagi orang Kristen karena ia telah ditebus dan diselamatkan da-lam Kristus Yesus. Karya penebusan Kristus telah memulihkan status dan kemampuan orang Kristen un-tuk hidup selaras dengan rencana Allah dan untuk itu juga orang Kristen diselamatkan. Efesus 2: 10 menuliskan: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.” Ayat ini mene-gaskan beberapa hal, yaitu: Kristus sebagai pusat dan tujuan penciptaan ma-nusia, selanjutnya menegaskan bahwa sejak awal Allah telah me-nentukan dan mempersiapkan orang Kristen untuk melakukan pe-kerjaan baik. Yang dimaksud di sini adalah suatu persembahan totalitas hidup yang berarti dan memiliki tujuan yang benar. Surat Petrus mengajarkan bahwa sesudah orang Kristen ditebus dengan darah yang mahal (1Pet 1: 18-19), maka selan-jutnya menegaskan agar orang Kristen dalam kehidupan pribadinya, keluarganya, kehidupan keaga-maan dan sosial-nya harus sesuai dengan kehendak Allah (1Pet 2: 1,12, dst).

Memuliakan dan Menikmati Allah

Apakah tujuan hidup manusia bisa dilepaskan dari keberadaan Allah dan rencana-Nya? Hanya dalam kerangka hidup memuliakan Allah saja orang Kristen menemukan dan mengalami makna hidup yang sejati dan hanya dalam proses itu pula orang Kristen dapat menikmati anugerah Allah seutuhnya. R.C. Sproul berkata “Jika kita diciptakan oleh Allah, berarti kita memiliki relasi dengan Allah. Apabila manusia dilihat sebagai seseorang yang sendiri dan terpisah dari Allah, maka manusia akan tetap sendiri dan tidak penting. Apabila kita bukan makhluk ciptaan yang diciptakan dan ada hubungannya dengan Allah, maka kita hanyalah suatu kebetulan yang terjadi di dunia ini. Apabila kita muncul dari suatu kebetulan dan kemudian berakhir pada suatu kesia-siaan, maka kita menjalani kehidupan antara dua titik kesia-siaan yang tiada artinya..” (Essential Truths of the Christian Faith, 1992).
Alkitab dengan tegas menyata-kan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan dengan suatu tujuan yang pasti sehingga tujuan hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari rencana-Nya bagi hidup manusia. “Karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singga-sana, maupun kerajaan, baik peme-rintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (Kol 1:16). Jelas sekali bahwa Allah merupakan pusat dan tujuan hidup semua manusia. Orang Kristen memiliki tujuan yang sangat khusus yang telah ditetapkan oleh Allah sebelum dunia dibentuk, Allah menginginkan agar semua orang Kristen benar-benar hidup bagi kemuliaan-Nya.

Apakah kehidupan Anda hari ini telah mencapai kesuksesan hidup sesuai dengan status Anda sebagai orang percaya? Bagaimana seharus-nya kita hidup sebagai orang percaya supaya dapat mewujudkan tujuan hidup kita? Kalau sudah muncul keinginan dalam diri seorang Kristen untuk memuliakan Allah ia pasti akan memberikan yang terbaik dalam hidupnya, maka ia juga akan men-cari cara-cara yang terbaik untuk menghasilkan hidup yang memulia-kan Allah. Roma 11: 36 menegas-kan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
Hidup memuliakan Allah harus menggerakkan dan mengendalikan serta menguasai hidup anak-anak Allah, karena itu adalah sebuah pang-gilan yang mulia. Allah memanggil kita keluar dari dunia yang gelap menuju terang-Nya yang ajaib dan supaya dalam hidup ini kita mempraktekkan hidup dalam terang dan membagi terang itu kepada dunia (1 Pet 2: 9). Dengan demikian sejatinya orang Kristen tidak menentukan tu-juan hidupnya sendiri, ia harus kembali kepada tujuan sang pencipta, arsitek hidup dan penyelamatnya, memuliakan Dia dan menikmati Dia selamanya. Soli Deo Gloria.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/23 in Renungan Pagi