RSS

Arsip Kategori: Renungan Malam

Lebih Dari Pemenang ( Part 2 )

Lalu apa artinya “lebih dari pemenang”, ini artinya adalah kita berhasil dalam sesuatu. Kita mampu mengalahkan musuh-musuh kita, yaitu iblis yang datang untuk mencuri dan membinasakan. Daud adalah contoh yang baik bagi kita karena ia sudah mengalahkan berlaksa-laksa musuh. Tetapi sebelum itu ada tiga musuh yang harus kita kalahkan terlebih dahulu.

 

  1. Membunuh Singa – Iblis

Singa melambangkan iblis yang seperti singa juga mengaum untuk menakut-nakuti kita. Iblis melakukan ini untuk menaruh benih ketakutan di dalam hati kita. Karena itu marilah kita bunuh roh ketakutan yang disebarkan oleh iblis, karena kita tidak perlu takut oleh iblis yang hanya mengaum seperti seekor singa. Ada tiga hal mengapa kita perlu membunuh roh ketakutan:

1. Ini adalah perintah

Janganlah takut adalah perintah Tuhan yang berarti harus kita taati. Jika kita mengalami ketakutan kita harus berdoa dan minta pengampunan dan kekuatan dari Tuhan.

2. Rasa takut menular

Rasa takut itu bisa menular, karena itu harus kita singkirkan dan bunuh.

3. Bisa menjadi kenyataan

Rasa takut itu serupa dengan iman. Dan jika kita benar-benar mempercayainya maka rasa takut itu akan menjadi kenyataan. Sebagai anak-anak Tuhan kita tidak perlu takut karena Ia akan menjaga dan memelihara kita.

1. Membunuh Beruang – Tidak mau mengampuni

Daud diasingkan dari keluarganya karena ia dianggap sebagai anak haram. Akan tetapi walaupun ia diperlakukan tidak adil dan buruk, Daud tidak menyimpan demdam atau kepahitan terhadap keluarganya. Daud bahkan mengampuni mereka.

2. Membunuh Goliath – Roh intimidasi

Goliath mengejek, menteror dan mengintimidasi bangsa Israel selama 40 hari dan 40 malam. Banyak intimidasi disekeliling kita yang dapat menjatuhkan kita jika kita mengikuti dan percaya. Kita harus membunuh roh intimidasi ini. Untuk itu kita jangan bergaul dengan orang-orang yang seperti itu dan bergaul dengan saudara seiman untuk saling menguatkan. Penuhi diri kita dengan firman Tuhan yang merupakan obat penawar terbaik.

 

Tuhan memberkati.

Sumber : Succesfull Bethany Family

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/24 in Renungan Malam

 

Lebih Dari Pemenang ( Part 1 )

A. Pendahuluan

Menurut kesaksian Perjanjian Lama, hari raya Paskah dilakukan untuk memperingati pembebasan umat Allah dari perbudakan di Mesir. Hal itu dengan jelas kita baca dalam Keluaran 12:11-18. Umat Israel tahu, bahwa YHWH (Yahwe), dengan tulah yang Ia adakan pada bangsa Mesir, maka Allah akan “melewati” (bhs Ibrani = pesakh, bnd. Ayat 13) mereka. Implikasihnya, Allah akan “melindungi” mereka dari kematian. Makna Paskah bagi umat Kristen saat ini dalam terang Perjanjian Baru, mendapat arti yang baru yang dihubungkan dengan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itu Paskah bagi kita adalah perayaan untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus yang dengannya telah “melewatkan” (bhs.Ibrani = pesakh) kita dari kematian kekal sebagai hukuman karena dosa.

Kebangkitan Kristus (baca=Paskah) dan mengorbananNya itu bagi umat manusia disebabkan karena satu motif utama yakni karena Kasih-Nya bagi kita (Yoh.3:16). Kasih yang sama itu pula yang memungkinkan kita menjadi lebih dari pemenang (Rm.8:37) karena Dia adalah Pemenang yang sesungguhnya (Why.6:2). Bagaimanakah hal ini dimengerti dan dimaknai dalam perjalanan iman orang percaya saat ini ketika berada di tengah “perjuangan” hidupnya? Bagaimana proses menjadi “lebih dari pemenang” itu kita jalani? Kiranya tulisan di bawah ini membantu saudara menemukan jawabannya.

B. Menjadi Pemenang (tanpa istilah “lebih dari”) adalah Sebuah Proses Anugerah

Bicara soal pemenang berarti menyangkut pula tentang proses menjadi pemenang. Proses yang dimaksud bisa berarti perlombaan, perjuangan, peperangan dsb yang melibatkan lebih dari satu pihak. Itulah sebabnya sebelum sampai pada ayat 37, Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma khususnya pada pasal 8 ayat 31, memulai dengan suatu pertanyaan “siapakah lawan kita?” Dengan kata lain kemenangan yang diperoleh dalam perjuangan itu didasarkan atas perlawanan kepada/dengan siapa? Siapakah objek atau lawan yang telah dikalahkan itu? Pertanyaan ini penting untuk dijawab dalam rangka menunjukkan identitas kita sebagai pemenang (pemenang atas apa?).

Kemenangan atas apa? Menurut Paulus terdapat 2 kelompok lawan yang atasnya kita telah menang atau yang tidak sanggup melawan kita lagi.Pertama, penderitaan-penderitaan sementara (ay.35). Penderitaan-penderitaan dimaksud adalah penindasan, penganiayaan, kesesakan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya (1kor.15:30), dan pedang (baca=peperangan). Kedua, kuasa-kuasa (ay.38-39). Kata-kata ini menyebut musuh-musuh yang amat ditakuti pada abad pertama oleh orang-orang yang berbudaya Yunani termasuk jemaat di Roma. Musuh-musuh ini dianggap memiliki kekuatan gaib atau supra-natural yang jahat untuk menguasai hidup dan nasib manusia. Tirani ilmu nujum dan ketakutan yang mendatangkan keputusasaan ini telah membawa hidup manusia ke dalam cengkraman “nasib” yang tak berbelas-kasihan. Dengan kata lain, 2 musuh yang dimaksud Paulus adalah musuh yang menyerang jasmani dan rohaniumat Tuhan. Terhadap kedua jenis musuh inilah umat Tuhan telah dimenangkan. Itulah pula identitas kita sebagai pemenang, yakni yang menang terhadap penyerang jasmani dan rohani kita.

Lebih lanjut, pertanyaan yang tidak kalah pentingnya untuk dijawab adalah: “atas dasar apa Paulus maupun umat Tuhan mengklaim diri sebagai pemenang yang telah mengalahkan musuh-musuh tersebut?” Perhatikan ayat 34 yang dinyatakan Rasul Paulus lewat bentuk pertanyaan semunya. Kemenangan yang diklaim oleh Paulus yang juga dinikmati umat percaya, terjadi berdasarkan kemenangan Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitanNya. Dengan kata lain kuasa kebangkitan Yesus Kristus atau Paskah adalah momentum kemenangan umat percaya atas musuh-musuhnya. Hal ini lebih tegas dinyatakan Rasul Paulus dalam Ef.1:20-23 bahwa lewat Paskah (kebangkitan Yesus Kristus) segala pemerintah, penguasa dan kekuasaan kini dan akan datang, telah tunduk dibawah kaki Kristus. Kemenangan yang sama itu pula telah menjadi milik setiap orang yang percaya kepadaNya (bd. Ef.1:22-23).

Dengan demikian kita dapat simpulkan bahwa kemenangan orang percaya, termasuk saya dan saudara, atas musuh-musuh umat Tuhan, diperoleh bukan karena perjuangan kita melainkan karena kuat Kuasa dan Kasih Yesus Kristus Penyelamat yang Agung dan Besar. Sekali lagi itu terjadi bukan karena usaha kita, melainkan semata-mata karena Kasih Karunia Allah (sola-gracia) yang dianugerahkan bagi kita. Kemenangan ini adalah hadiah cuma-cuma atau anugerah yang gratis namun mahal harganya. Penggenapan kemenangan ini adalah bahwa ‘Allah menjadi semua di dalam semua’ (1Kor.15:24-28). Artinya bahwa kemenangan ini bukan pertama-tama kemenangan kita, melainkan adalah kemenangan Allah karena Dialah kemenangan yang sejati itu. Konsekuensi logisnya adalah bahwa hanya Dia sajalah yang harus dimuliakan dan diagungkan ketika kita telah mengecap kemenangan atas musuh-musuh yang merongrong kehidupan iman kita. Saudara dan saya diajak untuk tidak bermegah diri atau menjadi angkuh atas kemenangan itu, sebab tindakan itu sama halnya dengan upaya “mencuri” kemuliaan Tuhan. Jika musuh-musuh itu tidak mampu melawan kita, maka biarlah itu menjadi puji-pujian dan hormat untuk kemuliaan Allah Bapa dalam Yesus Kristus.

 

C. Menjadi “lebih dari” Pemenang adalah Tindakan Imani terhadap Anugerah Allah

Menarik untuk disimak bahwa istilah “lebih dari pemenang” (LAI= lebih dari pada orang-orang yang menang; NIV= we are more than conquerors) dalam ayat 37, tidak lazim digunakan untuk menunjuk pada hasil perjuangan. Istilah yang harusnya lazim digunakan adalah pemenang, juara, atau penakluk dan tidak pernah ada penambahan kata keterangan “lebih dari”. Tetapi mengapa justru istilah ini (“lebih dari”) dipakai Paulus? Apakah ada perbedaan maksud Paulus tentang “pemenang” dan “lebih dari pemenang”?

Saya yakin bahwa Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa musuh-musuh tersebut telah hancur dan mereka telah menderita kekalahan. Sebab jika memang kelaparan, ketelanjangan, kesesakan, penindasan dsb telah dikalahkan atau tidak mampu lagi melawan pengikut Kristus, lalu mengapa orang Kristen justru masih banyak mengalami kelaparan, ketelanjangan, penindasan dan sebagainya itu? Di sinilah letak rahasia besar dibalik istilah “lebih dari pemenang” yang dipakai oleh Paulus untuk orang-orang yang percaya kepada Kristus. Artinya, bahwa segala persoalan hidup tetap ada di sekitar hidup orang percaya, selama kita masih berada di dalam dunia, namun kita memiliki pengharapan iman bahwa kita akan menang atasnya melalui kuasa Kebangkitan Yesus Kristus (paskah).

Perhatikanlah bahwa anugerah kemenangan itu kita terima atas segala bentuk penderitaan dan pergumulan hidup dan bahkan atas berbagai kuasa apapun di dunia ini. Sebagai pemenang, kita hanya akan mampu disebut “lebih dari pemenang” apabila Anugerah itu kita nyatakan dalam tindakan imani kita sehari-hari. Bagaimana hal itu dimengerti? Paulus adalah contoh kongkrit dari Pribadi yang menjadi “lebih dari pemenang” dalam hal tindakan-tindakan imaninya menghadapi kesulitan hidup. Paulus menyebut berbagai penderitaan yang ia hadapi sebagai pengikut Kristus dalam 1Kor.4:11 antara lain rasa lapar, haus, dipukul dan hidup mengembara. Ia bisa saja mengalahkan rasa lapar, haus dan berbagai penyiksaan itu dengan sekejap lewat berhenti menjadi pemberita Firman. Ia pasti akan mendapat berbagai fasilitas pemerintahan Romawi waktu itu dan bahkan mungkin hidup mewah menjadi bagiannya. Dan jika ia lepas dari semua penderitaan itu bukankah itu berarti ia telah menjadi pemenang terhadap rasa lapar dan haus melalui berbagai kelimpahan material? Bukankah itu benar? Tapi lihatlah, Paulus tidak memilih jalan itu! Ia tetap memberitakan Firman dan hidup dalam kebenaran Allah. Inilah yang dilakukan Paulus sebagaimana tertulis dalam ayat 12 dan 13 surat 1Kor.4, yakni: “…Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami menjawab dengan ramah…” Inilah contoh hidup sebagai seorang pemenang yang berkarakter “lebih dari pemenang”. Paulus tahu bahwa oleh Anugerah Paskah penderitaan2 itu telah dikalahkan. Apa yang ia imani itu dinyatakan lewat tindakan imani (perbuatan nyata) untuk tidak mau kalah oleh penderitaan itu, namun sebaliknya tetap berjuang di jalan yang benar, kendatipun seakan-akan penderitaan itu kelihatan menang. Paulus menjadi pemenang yang “lebih dari sekedar pemenang” bukan karena ia mengalahkan musuh-musuhnya, tetapi dengan cara apa ia menjalani penderitaan-penderitaan itu.

Sebenarnya, apakah tujuan dari musuh-musuh, yang diuraikan di atas, hadir dalam kehidupan orang percaya? Perhatikan bacaan kita pada ayat 35 dan 39b “…memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus…” Jadi kemenangan musuh-musuh kita bukan soal bagaimana mereka telah membuat kita menderita sebagai pengikut Kristus, tetapi lebih dalam dari itu adalah bagaimana penderitaan-penderitaan itu akhirnya memisahkan kita dari Kasih Allah. Anda pasti masih mengingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang dilaporkan dalam Daniel pasal tiga. Mereka mendatangkan kegeraman Raja Nebukadnezar dengan menolak bersujud dan menyembah patung yang dibuatnya. Raja menyatakan dengan jelas bahwa jika sekali lagi mereka menolak, maka akan dicampakkan ke dalam “perapian yang menyala-nyala.” Perhatikanlah jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego atas tantangan raja itu: “…Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:17-18). Mereka bisa saja menghindarkan diri dari dapur api itu lewat tunduk pada perintah raja. Dengan demikian mereka menang terhadap penderitaan itu karena “si dapur api” tidak mampu menjamah mereka. Tetapi jika hal itu terjadi maka mereka telah terpisah dariKasih Allah dan musuh-musuh iman mereka telah berhasil mencapai tujuannya.

Sadrakh, Mesakh dan Abednego dapat disebut sebagai Pemenang yang berkarakter “lebih dari pemenang”, bukan karena tetap hidup setelah keluar dari perapian yang menyala-nyala, namun karena perbuatan iman mereka untuk tetap percaya kepada Allah. Mungkin saudara sedang mengalami penderitaan sebagai seorang percaya saat ini: mengalami ketidak-adilan dalam berbagai keputusan pihak2 tertentu hanya karena saudara seorang Kristen; saudara sulit mendapatkan promosi untuk posisi tertentu karena anda pengikut Kristus; saudara mengalami sakit menahun yang sebenarnya bisa disembuhkan jika anda mau mampir kepadepokan paranormal yang terjamin kesaktiannya dsbnya. Saudara bisa keluar dari persoalan itu dengan mudah melalui banyak jalan pintas, dan akhirnya saudara menjadi “pemenang” atas penderitaan-penderitaan itu. Tapi sayang, saudara telah terpisahkan dari Kasih Kristus oleh penderitaan-penderitaan itu yang justru menurut saudara penderitaan-penderitaan itu telah anda kalahkan dan berlalu.

Kita percaya bahwa semua musuh-musuh iman kita, termasuk segala penderitaan hidup, sakit penyakit, ketidakadilan, kuasa-kuasa setan, kelaliman dan sebagainnya telah dikalahkan oleh Kuasa Kebangkitan Yesus Kristus (paskah). Ini memberi implikasi bahwa Allah dalam Yesus Kristus sanggup melepaskan kita dari segala bentuk penderitaan hidup dan menjadikan kita sebagai pemenang sebab Paskah telah mengalahkan semua ancaman itu. Kita diajak untuk menyerahkan diri kepada Allah dan membiarkan Ia bertidak. Penyerahan diri secara total kepada Tuhan Yesus adalah yang Ia inginkan dari umatNya. Dalam keadaan yang kelihatannya tidak terkendali sekalipun, saya percaya bahwa Ia sanggup menyelamatkan hidupku- tetapi seandainya tidak, dan pergumulan itu tetap ada, maka saya tidak akan melakukan sesuatu yang dapat memisahkanku dari Kasih Kristus. Itulah seorang pemenang yang berkarakter “lebih dari pemenang”.

 

D. Penutup

Melalui Paskah, Kristus telah membuktikan bahwa Ia telah mengalahkan berbagai penghalang yang akan memisahkan kita dari KasihNya. Hal ini menjadikan kita sebagai pribadi yang “lebih dari pemenang”. Menjadi “lebih dari pemenang” bukan soal siapa/apa yang kita kalahkan, melainkan bagaimana cara saudara dan saya berproses menjalani semua tantangan hidup ini dengan tidak mengijinkan iblis memanfaatkannya untuk memisahkan saudara dari Kasih Kristus. Kendatipun penderitaan hidup belum selesai kita tahu bahwa kita telah menang atasnya bahkan menjadi “lebih dari pemenang” melalui penyerahan diri dan ketaatan kepada Allah. GBU

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/24 in Renungan Malam

 

Stefanus Dilempari Dengan Batu

LELAKI yang berlutut ini adalah Stefanus. Ia murid yang setia dari Yesus. Tapi lihat apa yang terjadi atasnya sekarang! Orang-orang itu melempari dia dengan batu yang besar. Mengapa mereka begitu benci kepada Stefanus sehingga mereka melakukan perkara yang mengerikan ini? Marilah kita lihat.

Allah telah membantu Stefanus melakukan mujizat-mujizat yang menakjubkan. Orang-orang ini tidak menyukai hal itu, dan karena itu mereka mencoba bertengkar dengan dia tentang kebenaran yang dia ajarkan kepada orang banyak. Tapi Allah memberi hikmat yang luar biasa kepada Stefanus, dan Stefanus membuktikan bahwa orang-orang ini telah mengajarkan perkara-perkara yang palsu. Akibatnya mereka menjadi makin marah. Maka mereka menangkapnya, dan memanggil orang-orang lain untuk mengucapkan dusta tentang Stefanus.

Imam besar bertanya kepada Stefanus: ’Benarkah demikian?’ Stefanus menjawab dengan memberikan khotbah yang bagus dari Alkitab. Pada penutupnya, ia menceritakan bagaimana orang-orang jahat membenci nabi-nabi Yehuwa di masa lampau. Lalu ia berkata: ’Kamu sama seperti orang-orang itu. Kamu membunuh Yesus hamba Allah, dan kamu tidak mentaati hukum-hukum Allah.’

Pemimpin-pemimpin agama ini sangat marah! Mereka menggertakkan gigi karena marah. Tapi kemudian Stefanus mengangkat kepalanya, dan berkata: ’Lihat! Aku melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah di surga.’ Mendengar ini, orang-orang itu menutup telinga dengan tangan dan mengejar Stefanus. Mereka menangkapnya dan menyeretnya ke luar kota itu.

Di situ mereka menanggalkan baju luar mereka dan menyerahkannya kepada pemuda Saul untuk dijaga. Apakah kau melihat Saul? Kemudian beberapa dari orang-orang itu mulai melempari Stefanus dengan batu. Stefanus berlutut, seperti yang dapat kaulihat, dan ia berdoa kepada Allah: ’Yehuwa, janganlah menghukum mereka karena kejahatan ini.’ Ia tahu beberapa dari mereka telah ditipu oleh pemimpin-pemimpin agama. Setelah itu Stefanus meninggal.

Bila ada yang berbuat jahat kepadamu, apakah kau berusaha membalasnya? Bukan demikian yang dilakukan oleh Stefanus atau Yesus. Mereka baik hati bahkan kepada orang-orang yang kejam terhadap mereka. Marilah kita berusaha meniru teladan mereka.

Kisah 6:8-15; 7:1-60.

 


Pertanyaan

  • Siapakah Stefanus, dan Allah membantu dia untuk melakukan apa?
  • Apa yang Stefanus katakan yang membuat para pemimpin agama sangat marah?
  • Ketika orang-orang menyeret Stefanus ke luar kota, apa yang mereka lakukan kepadanya?
  • Pada gambar ini, siapakah pemuda yang berdiri di sebelah jubah-jubah?
  • Sebelum meninggal, Stefanus berdoa meminta apa kepada Yehuwa?
  • Seperti Stefanus, apa yang harus kita lakukan sewaktu seseorang berbuat jahat kepada kita?

Pertanyaan tambahan

  • Bacalah Kisah 6:8-15.Praktek-praktek licik apa yang telah digunakan para pemimpin agama untuk mencoba menghentikan pekerjaan pengabaran Saksi-Saksi Yehuwa? (Kis. 6:9, 11, 13)
  • Bacalah Kisah 7:1-60.Apa yang membantu Stefanus membela kabar baik dengan jitu di hadapan Sanhedrin, dan apa yang dapat kita pelajari dari teladannya? (Kis. 7:51-53; Rm. 15:4; 2 Tim. 3:14-17; 1 Ptr. 3:15)

    Sikap apa yang hendaknya kita perkembangkan terhadap para penentang pekerjaan kita? (Kis. 7:58-60; Mat. 5:44; Luk. 23:33, 34)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/24 in Renungan Malam

 

Kristen Kupu-Kupu atau Lebah

“Itulah yang harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya seumur hidupnya untuk belajar takut akan TUHAN, Allahnya, dengan berpegang pada segala isi hukum dan ketetapan ini untuk dilakukannya.” (Ulangan 17:19)

Apakah Anda belajar Alkitab seperti kupu-kupu ataukah lebah?
Kupu-kupu beterbangan kesana kemari sambil hinggap di bunga-bunga. Menghisap hanya bagian atas dan puas hanya mendapatkan bagian atasnya saja. Manusia menikmati permainan lincah yang diperagakannya.

Tetapi di bagian lain ada seekor lebah yang tidak beranjak dari dalam sekuntum bunga?

Apa yang dikerjakannya? Tidur? Tidak!

Dengan tenang dan meyakinkan ia makan sampai ke dalam sari bunga itu. Dan tidak berhenti sampai ia puas mendapatkan apa yang diinginkannya.

Suatu saat musim dingin tiba, kupu-kupu itu mati dalam kelaparan, tetapi si lebah tetap bertahan hidup sebab makanan yang masih tersedia di dalam dirinya.

Anda menjadi Kristen yang bertipe kupu-kupu ataukah lebah?

Apakah Anda puas hanya sekilas membaca Alkitab?

Perhatikan kupu-kupu yang cuma sekilas menghisap makanannya. Ketika musim dingin datang, maka matilah dia. Anda tidak bisa menjadi orang Kristen yang tangguh kalau hanya sekilas saja memberikan makanan rohani kepada roh Anda. Manusia rohani Anda akan kurus dan kering. Jadi tidak heran bila nafsu Anda yang perkasa akan dengan mudah “membanting” manusia rohani Anda, sehingga setiap hari Anda taat kepada keinginan nafsu Anda.

Sebaliknya bila Anda memberikan makanan seperti lebah yang menggali sampai dalam sampai ia menemukan banyak makanan yang bergizi, maka Anda akan menjadi manusia rohani Anda tangguh. Bila godaan datang, karena manusia rohani Anda kuat, maka dengan mudah ia mengalahkannya.

Alkitab bukan sekedar buku wajib yang dibawa manakala kita ke gereja.

Alkitab adalah makanan rohani Anda.

Tuhan bahkan memberikan perintah agar kita membaca dan merenungkannya sampai seumur hidup!

Kalau saya bertanya kepada Anda, apakah Anda pernah merasa bosan makan sampai tiga kali sehari bahkan lebih?

Pernah? Tidak bukan?

Lalu mengapa kita harus bosan makan makanan rohani?

Mengapa pula kita harus bosan membaca Alkitab?

Semakin Anda makan terus, maka Anda akan mendapatkan berkat yang luar biasa dari Allah.

Kunci sukses Yosua merebut tanah Kanaan adalah melakukan firman Tuhan seperti dalam Yos, 1:8.

Yosua membaca dan merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam. Hasilnya, dia berhasil masuk tanah Kanaan setelah menghalau musuh-musuhnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Renungan Malam