RSS

Arsip Kategori: Bagai Rajawali

SEMUA BAYI RAJAWALI HARUS BELAJAR UNTUK TERBANG

Di atas puncak gunung yang tinggi, telur rajawali menetas dan munculah bayi rajawali. Seperti layaknya bayi yang lain, hanya ada dua hal yang sangat disukai oleh bayi rajawali ini untuk dilakukan, yaitu makanan dan tidur. Bayi rajawali akan menghabiskan masa-masa pertamanya di dunia di dalam sarangnya yang nyaman. Setiap hari, induk rajawali mencarikan makanan untuk bayinya dan menyuapi mulut bayi yang sudah terbuka untuk menerima makanan. Dengan perut kenyang, bayi itu tidur kembali. Hal itu berlangsung berulang-ulang dalam hidupnya. Siklus ini berjalan beberapa minggu, sampai pada suatu hari, induk rajawali ini terbang dan hanya berputar-putar di atas sarangnya memperhatikan anaknya yang ada di dalamnya. Kali ini tanpa makanan. Setelah berputar beberapa kali, induk rajawali akan terbang dengan kecepatan tinggi menuju sarangnya, ditabraknya sarang itu dan digoncang-goncangkannya. Kemudian ia merenggut anaknya dari sarang dan dibawanya terbang tinggi. Kemudian, secara tiba-tiba, ia menjatuhkan bayi rajawali dari ketinggian. Bayi ini berusaha terbang, tapi gagal. Beberapa kali jatuh, cepat-cepat sang induk meraih anaknya kembali. Setelah itu, dilepaskannya pegangan itu dan anaknya jatuh lagi.
Tapi sebelum anaknya menyentuh daratan, ia mengangkatnya kembali. Hal ini dilakukan berulang-ulang setiap hari. Hingga hanya dalam waktu satu minggu anaknya sudah banyak belajar, dan mulai memperhatikan bagaimana induknya terbang. Dalam jangka waktu itu, sayap anak rajawali sudah kuat dan ia pun mulai bisa terbang.

Banyak orang Kristen seperti bayi rajawali ini. Terlalu nyaman di dalam sarangnya. Kita hidup dengan nyaman tanpa mau ada perubahan. Kita mau selalu diisi dengan firman yang enak ditelinga, tanpa mau menerima kenyataan bahwa hidup kekristenan juga adalah hidup dalam penderitaan memikul salib. Ketika pencobaan datang menggoncang hidup kita, tergoncang pula iman kita. Kita mulai menyalahkan Tuhan dan memilih untuk menjauhiNya. Kita tidak sadar bahwa Tuhan sedang melatih kita, agar sayap kita menjadi kuat dan siap untuk terbang tinggi. Sebagaimana otot yang keras dan kuat dibentuk dari latihan yang rutin, demikian pula iman orang Kristen. Sebagaimana induk burung rajawali yang membiarkan anaknya jatuh dan menyambarnya kembali disaat2 kritis, demikian pula Allah, ketika kita jatuh dalam pencobaan, Ia tak pernah membiarkan kita sampai tergeletak.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali

 

RAJAWALI DICIPTAKAN UNTUK TINGGAL DI TEMPAT TINGGI

Berbeda dengan jenis burung lainnya, rajawali diciptakan untuk terbang di tempat-tempat yang tinggi, jauh dari pandangan mata telanjang dan jauh dari jangkauan para pemburu. Burung rajawali memiliki keunikan, jika ia berada di alam bebas, akan menjadi burung yang paling bersih di antara burung lainnya, tapi jika dia berada di dalam ‘penjara’ dan terikat, ia akan menjadi burung yang paling kotor (hal ini dikarenakan rajawali mengkonsumsi makanan yang berbeda dengan burung lainnya).

Firman Tuhan berkata bahwa Dia mengangkat kita menjadi kepala dan bukan ekor. Dia akan mengangkat kita di atas gunung batu. Demikianlah kita seharusnya dalam kehidupan ini, selalu beriman bahwa Tuhan merancangkan kehidupan yang indah, dan bukan kesulitan. Kita akan berkelimpahan dan bukan berkekurangan. Dan sebagaimana Rajawali adalah burung yang bersih ketika hidup jauh dari burung2 lainnya, demikian pula kita harus hidup jauh dari kesenangan dan godaan duniawi yang sewaktu-waktu dapat mencemari kehidupan kerohanian kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali

 

RAJAWALI TIDAK TERBANG, TAPI MELAYANG

Rajawali tidak terbang seperti layaknya burung-burung yang lain yang terbang dengan mengepak-epakkan sayapnya dengan kekuatan sendiri. Yang dilakukan Rajawali ialah melayang dengan anggun, membuka lebar-lebar kedua sayapnya dan menggunakan kekuatan angin untuk mendorong tubuhnya. Yang membuat rajawali sangat spesial ialah ia tahu betul waktu yang tepat untuk meluncur terbang. Ia berdiam di atas puncak gunung karang, membaca keadaan angin, dan pada saat yang dirasa tepat ia mengepakkan sayapnya untuk mendorong terbang, lalu membuka sayapnya lebar-lebar untuk kemudian melayang dengan menggunakan kekuatan angin itu.

Angin sering disebutkan dalam Alkitab sebagai penggambaran dari Roh Kudus. Kita dapat belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan membiarkan-Nya mengangkat kita lebih tinggi lagi, semakin dekat dengan Tuhan Yesus. Seringkali kita ‘terbang’ dengan kekuatan kita sendiri. Hasilnya kita menemui banyak kelelahan, kekecewaan dan kepahitan dalam hidup ini. Belajar dari rajawali, marilah kita ‘terbang’ melintasi kehidupan ini dengan mengandalkan tiupan angin Roh Kudus.

Kadang angin juga berbicara mengenai kesulitan-kesulitan hidup. Badai sering menggambarkan adanya pergumulan dalam hidup ini. Bagi rajawali, badai adalah media yang tepat untuk belajar menguatkan sayapnya. Dia terbang menembus badai itu, melayang di dalamnya, melatih sayapnya untuk lebih kuat lagi. Seorang ‘Kristen Rajawali’ seharusnya mengucap syukur dalam menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Karena saat itulah saat yang tepat bagi kita untuk mempergunakan pencobaan sebagai media untuk menguatkan sayap-sayap iman kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali

 

RAJAWALI MEMILIKI WAKTU KHUSUS UNTUK PEMBAHARUAN

Ketika rajawali berumur 60 tahun, ia memasuki periode pembaharuan. Seekor rajawali akan mencari tempat tinggi dan tersembunyi di puncak gunung. Ia berdiam disitu, membiarkan bulu-bulunya rontok satu demi satu. Rajawali ini mengalami keadaan yang menyakitkan dan sangat mengenaskan selama kira-kira 1 tahun. Ia menunggu dengan sabar selama proses ini berlangsung, dan setiap hari ia membiarkan sinar matahari menyinari tubuhnya untuk mempercepat proses penyembuhannya. Melalui proses ini, bulu-bulu barupun tumbuh, dan rajawali menerima kekuatan yang baru sehingga ia mampu untuk bertahan hidup hingga umur 120 tahun, seperti normalnya rajawali hidup.

Seperti rajawali, orang Kristen perlu memiliki waktu-waktu khusus untuk proses pembaharuan dalam hidup ini. Membiarkan hal-hal lama yang tidak berguna lagi ‘rontok’ dan menanti-nantikan dengan sabar pemulihan dari Tuhan. Pembaharuan adalah prinsip Ilahi, dimana Allah memotong segala sesuatu yang tidak menghasilkan buah dalam hidup kita ini agar kita mampu berbuah lebat. Selama kita menantikan Dia, relakan proses pembaharuan itu berlangsung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali

 

KETIKA BURUNG RAJAWALI SAKIT

Ketika rajawali mengalami sakit di tubuhnya, ia terbang ke suatu tempat yang sangat disukainya, dimana ia dengan leluasa dapat menikmati sinar matahari. Karena sinar matahari memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan rajawali, dan juga merupakan obat yang paling mujarab baginya.

Ketika kita sakit, baik itu sakit secara fisik, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, atau sakit rohani kita, apakah kita juga mencari Allah yang memainkan peranan penting dalam hidup kita, yang juga merupakan sumber kesembuhan bagi segala macam ‘penyakit’ ?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali

 

KETIKA BURUNG RAJAWALI MATI

Ketika rajawali berada dalam keadaan mendekati waktu kematiannya, ia terbang ke tempat yang paling disukainya, di atas gunung, menutupi tubuhnya dengan kedua sayapnya, memandang ke arah terbitnya matahari, lalu…..mati.

Saudaraku, sudah selayaknya, semua orang Kristen mati dengan mata dan hati tetap tertuju pada Yesus sebagai sumber dari pengharapan dan jaminan di dalam kehidupan kekal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/22 in Bagai Rajawali