RSS

Doa Bagi Bangsa Indonesia ( Part 1 )

23 Sep

Ayat bacaan: Daniel 9:16
====================
“Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.”

66 tahun yang lalu proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dinyatakan. Prosesnya tidaklah mulus. Kita mempelajari dari sejarah bahwa sehari sebelumnya, tepatnya pada tanggal yang sama dengan hari ini Soekarno dan Hatta sempat dibawa ke Rengasdengklok untuk didesak agar mempercepat proses proklamasi. Pada akhirnya keesokan harinya tanggal 17 Agustus 1945 kedua bapak bangsa pun menyatakan kemerdekaan Indonesia, yang kita peringati sebagai hari jadi negara Republik Indonesia. Meski proklamasi sudah dikumandangkan dan Indonesia memasuki era baru kemerdekaan, tetapi perjuangan dan pergumulan tidaklah berhenti. Belanda sempat ingin merebut kembali kedaulatan negara kita dan para pahlawan kita pun kembali berjuang dengan cucuran darah dan air mata. Hingga hari ini sesungguhnya perjuangan tidak kunjung berhenti. Hidup di alam kemerdekaan ternyata tidak juga membuat kita bisa menikmati itu sepenuhnya. Adanya gerakan-gerakan separatis, ekstrimis, teroris, koruptor dan orang-orang lain yang tega menghancurkan keutuhan negara demi kepentingan pribadi atau golongannya sendiri, orang-orang yang merasa dirinya paling benar dan merasa berhak menghakimi atau membinasakan orang lain membuat alam kemerdekaan ini masih belum sepenuhnya bisa kita rasakan. Tekanan-tekanan dari negara asing secara politik dan ekonomi masih terjadi hingga hari ini. Bagi banyak orang, kemerdekaan masihlah sebuah utopia saja yang tidak kunjung bisa dicapai.

Apa peran kita sebagai orang-orang percaya dalam menyikapi hal ini? Berpangku tangan jelas bukan pilihan. Melarikan diri ke luar negeri dan membiarkan bangsa ini porak poranda sampai tinggal puing-puing saja juga bukan jawaban yang benar. Apalagi ditambah dengan keluh kesah, protes atau mengutuki pemimpin dan bangsa sendiri. Tidak, itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan oleh orang percaya. Ada tugas besar bagi kita semua karena bukanlah kebetulan kita ditempatkan di dunia ini untuk menjadi bagian dari sebuah bangsa yang masih terus bergulat menghadapi begitu banyak masalah. Turun ke jalan dan membuat keonaran? Memukuli orang yang tidak sepaham atau kita anggap salah? Itu kejahatan berat di mata Tuhan. Salah satu yang bisa dan WAJIB kita lakukan adalah terus memanjatkan doa untuk bangsa ini. Berdoa dan terus mendoakan bangsa. Bukan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi terlebih untuk bangsa ini. Karena selain itu menjadi panggilan wajib bagi kita, tetapi sadar atau tidak sesungguhnya kesejahteraan kita akan sangat tergantung dari kondisi bangsa dimana kita berdiam.

Ada sebuah contoh bagus yang bisa kita lihat dalam Alkitab akan hal ini yaitu dengan melihat cara pandang Daniel. Pada masa hidupnya, Daniel menyadari betapa keadaan bangsanya begitu memprihatinkan. Daniel tidak bersikap apatis, tidak juga menyalahkan bangsanya terus menerus, mengutuki atau bahkan menghakimi. Itu bisa saja dia lakukan kalau mengingat dia bukanlah termasuk salah satu dari orang yang berbuat kejahatan. Ia hidup kudus dan taat. Ia tidak berbuat apapun yang salah. Tapi perhatikanlah bahwa Daniel mengambil waktu untuk berdoa, bukan difokuskan untuk dirinya sendiri tetapi secara khusus untuk bangsanya. Bacalah seluruh isi doa Daniel yang tertulis dalam Daniel 9:1-19 maka kita akan melihat bahwa Daniel menggunakan kata “kami” dan bukan “mereka”. Daniel memiliki sebuah kerendahan hati untuk tidak bermegah diri meski dia sendiri sudah mengaplikasikan hidup benar dan akrab dengan Tuhan sejak semula. Daniel mengasihi dan peduli terhadap bangsanya. Ia tahu bahwa ia merupakan bagian dari bangsanya. Jika bangsanya menderita, ia pun akan turut menderita. Sebaliknya jika bangsanya makmur dan sejahtera, maka ia pun akan menjadi bagian yang bisa menikmati itu. Daniel mengerti bahwa meski ia tidak berbuat satupun kesalahan, tapi biar bagaimanapun ia tetap merupakan bagian yang terintegrasi dengan bangsa yang saat itu tengah memberontak, tengah berperilaku fasik, bangsa yang bergelimang perilaku menyimpang dan dosa. Selain itu, Daniel sadar betul bahwa jika bukan dia, siapa lagi yang harus berdoa agar malapetaka dan murka Tuhan dijauhkan dari bangsanya? Maka lihatlah bagaimana Daniel berdoa. “Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Daniel 9:16-19). Ini sebuah doa yang sangat indah yang dipanjatkan Daniel mewakili bangsanya.

Bagaimana jika kita berpangku tangan dan membiarkan saja bangsa yang kita cintai jatuh ke dalam berbagai kejahatan dan penyesatan? Akan hal ini kita bisa melihat mengapa Tuhan membinasakan Sodom. Alkitab menggambarkan kehancuran yang begitu mengerikan. “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit; dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.”(Kejadian 19:24-25). Mengapa itu harus terjadi? Alkitab pun menyebutkan alasannya, sebab “orang Sodom sangat jahat dan berdoa terhadap TUHAN.”(Kejadian 13:13). Abraham sempat berusaha untuk meminta keringanan kepada Tuhan, dimana proses tawar menawar antara Abraham dan Tuhan tercatat jelas di dalam Alkitab. Mari kita lihat sejenak. Abraham mengatakan“Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kejadian 18:25). Keadilan Tuhan ternyata bukan diukur dari baik tidaknya orang percaya yang tinggal dalam satu bangsa, tetapi sejauh mana mereka peduli terhadap keselamatan bangsanya. Kesejahteraan penduduk tergantung kepada kemakmuran bangsa, termasuk pula di dalamnya anak-anak Tuhan sendiri. Apa kata Tuhan? “TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (ay 26). Ternyata tidak ada 50 orang pun yang benar disana. Tawar menawar terus terjadi, hingga “Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (ay 32). Bayangkan 10 orang benar saja pun sudah tidak ada. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, tidak berpangku tangan, orang yang taat dan takut akan Tuhan dan peduli terhadap bangsanya sendiri, Tuhan akan mengampuni orang-orang yang tinggal di Sodom.

Peran orang percaya sesungguhnya vital terhadap kemakmuran, kesejahteraan dan kemajuan bangsa. Melihat keadaan carut marut bangsa kita hari ini, sudahkah kita berperan di dalamnya? Sudahkah kita menjadi orang percaya yang tidak egois dan peduli terhadap eksistensi dan masa depan bangsa sendiri? Sudahkah kita mendoakan bangsa kita, bergabung bersama-sama saudara-saudari kita lainnya untuk memanjatkan doa mewakili bangsa ini? Sebagai anak bangsa, sudah selayaknya kita peduli dan turut mendoakan bangsa dan negara kita. Paulus pun mengingatkan pesan berikut: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. (1 Timotius 2:1-2). Bisa tidaknya kita hidup tenang dan tenteram, itu tergantung dari bagaimana keadaan bangsa dan negara kita sendiri. Kepedulian kita merupakan sebuah hal yang wajib. “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (ay 3-4). Tuhan tidak ingin satupun dari manusia ciptaanNya untuk binasa. Dia telah menjadikan segala sesuatu itu amat sangat baik sejak semula. Tidak satupun bagian dunia ini yang sengaja Dia ciptakan untuk mengalami kehancuran. Dia tidak pernah bersenang hati melihat runtuhnya sebuah negara dan bangsa. Bukti kasihNya yang sangat besar itu jelas kita lihat dengan hadirnya keselamatan lewat Kristus, mengorbankan AnakNya sendiri untuk semua bangsa, semua golongan, semua ras, tanpa terkecuali. Tapi bagi yang sudah selamat, sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendoakan bangsa kita sendiri? Kuasa doa itu sesungguhnya amat besar, apalagi jika dilakukan oleh orang yang benar. “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Oleh sebab itu anak-anak Tuhan haruslah menjadi warga negara yang baik. Hormati dan tunduklah pada pemimpin kita, jangan hanya mengeluh dan membuat segalanya semakin sulit. “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Petrus pun mengingatkan hal yang sama, untuk tunduk kepada pemerintah demi nama Allah. “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi..” (1 Petrus 2:13). Kepedulian kita akan sangat menentukan bagaimana masa depan bangsa ini. Alangkah indahnya jika kita anak-anak Tuhan bersepakat berdoa bagi bangsa bersama-sama tanpa memandang perbedaan apapun. Dimanapun dan apapun gereja anda, ini saatnya kita bersatu. Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang termasuk bagi pemimpin-pemimpin kita dan juga untuk bangsa dan negara kita. Benar, kondisi negeri ini masih jauh dari kondisi ideal. Masih begitu banyak yang harus dibenahi. Mungkin masalah-masalah yang ada terlihat jauh lebih besar dari kesanggupan kita, tetapi sesungguhnya untuk itulah kita harus berperan serta. Doa-doa orang benar sangatlah besar kuasanya dan mampu mengubah kehancuran menjadi kemakmuran. Tuhan mendengar doa anak-anakNya dan siap mengabulkan itu semua. Jadilah orang percaya seperti Daniel yang peduli. Ingatlah bahwa kita diselamatkan untuk menjadi berkat buat orang lain, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang bisa menyelamatkan orang lain, (Efesus 2:10) dan ini termasuk bangsa dan negara kita. Jangan biarkan negara kita pada akhirnya mengalami nasib seperti Sodom. Teladani Daniel, hari ini marilah kita mengambil waktu khusus untuk mendoakan negeri kita dengan sungguh-sungguh. Kita mohon ampun atas pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan sebagian dari elemen bangsa ini. Kesejahteraan bukanlah hal yang mustahil apabila semua orang percaya mampu berperan dan berdoa sesuai bidang dan kapasitasnya masing-masing. Dirgahayu Republik Indonesia. Tuhan mengasihi dan memberkati bangsa kita.

Wakili bangsa ini dan berdoalah bagi kesejahteraannya

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2011/09/23 in Renungan Pagi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: